Honest Thought About “Cinder: The Lunar Chronicles #1”

So, welcome back to this page.

Sejujurnya aku bingung banget mau nulis dan mulai darimana omaygattttt. Jadi sebelum postingan ini, aku sebenarnya sudah nulis reviewan ini panjang lebar sebelumnya, dan entah bagaimana semuanya terhapus. Like, you know sesuatu yang kita tulis dengan perasaan mengebu-gebu tuh kalo diulang lagi, ya gimana gitu. Kurang afdhol lah.

Anyway.. tak apalah. Berhubung novel ini bagus banget, dan aku ga bisa kalo ngerasain sendiri ke-amazing-an dari novel ini, jadi akan aku ketik kembali. *omaygat, masih kesel* *yang sabar ma, ini emang cobaan bagi para bloger emang* *Tarik napas* *buang secara perlahan*

Okay.

Hai guys, so aku balik lagi nulis. Yah.. ini tulisan pertama aku di tahun 2018, dan sudah masuk daftar resolusi di 2018 untuk balik lagi nulis review novel. Sebenarnya tepatnya ada 23 novel yang aku baca tahun lalu. Banyak.. tapi masih jauh, bahkan ga nyampe setengah dari target challenge aku di Goodreads hahaha :’D

Dan novel yang aku pilih sebagai bahan review pertama di tahun 2018 adalah seri pertama  dari The Lunar Chronicles, Cinder.  FYI, series ini memiliki empat seri yang  sebenarnya udah aku baca semua hehehe. Tapi tenang aja, sebisa mungkin aku akan berusaha biar spoilernya ga kejauhan hahahaha.

Okay, without any further through, lets check it!


Cinder: The Lunar Chronicles (#1)

Processed with VSCO with p5 preset

Penulis: Marissa Meyer

Penerjemah: Yudith Listiandri

Penerbit: Spring

Cetakan pertama, Januari 2016

Jumlah Halaman: 383

Sinopsis:

Wabah penyakit tiba-tiba muncul dan mengancam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa , orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu, yang tepat untuk menyerang.

Cinder, seorang cyborg, adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua saudara tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuan dengan Sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?


Berlatar-belakang sekitar 100 tahun setelah Perang Dunia ke-empat, cerita bermula ketika Cinder, cyborg yang merupakan seorang mekanik sedang berada di tokonya di pasar kota, bersama android robotnya, Iko. Toko mereka kemudian dikunjungi oleh seorang lelaki yang kemudian diketahui adalah Pangeran Kaito, yang bukan lain adalah Sang Putra Mahkota Kerajaan Pesemakmuran. Pangeran Kai datang untuk meminta jasa Cinder sebagai mekanik handal untuk memperbaiki robot androidnya karena hal yang mendesak.

Beberapa jam setelah Pangeran Kai meninggalkan tokonya, terjadi kekacauan di Pasar. Anak dari pemilik toko yang berada dekat dengan toko Cinder terkena wabah penyakit, Letumosis, yang sampai saat itu belum diketahui penyebab dan penawarnya. Petugas Medis Kerajaan pun berdatangan menjemput anak tersebut, untuk di karantina. Karena takut ikut terinfeksi Cinder pun buru-buru pulang. Sesampainya di rumah ia pun mendengar percakapan tentang pesta dansa yang akan dihelat di Istana untuk menyambut Ratu Bulan, Levana, beberapa hari lagi. Ketika malam tiba, ia mendapati adiknya yang sangat dia sayangi terinfeksi Letumosis, dan langsung dibawa oleh Petugas Medis. Cinder merasa sedih dan bersalah karena telah membawa penyakit tersebut ke rumah dan terhadap satu-satunya orang yang dia anggap sebagai keluarganya.

Seakan kesedihan itu belum cukup, Ibu Tiri dan Kakak Tirinya yang jahat menghubungi Petugas medis untuk menjemput dan menjual Cinder sebagai relawan untuk ekperimen Letumosis. Cinder pun harus berpisah dengan Iko, robot yang sudah dia anggap sahabat terdekatnya.

Ketika sampai di Laboratorium, Cinder menjalani berbagai tes hingga membuat ia tidak sadarkan diri. Namun ketika ia terbangun, semua misteri tentang masa lalu, mimpi akan kebakaran besar yang selama ini menghantuinya, dan kematian ayah tirinya, Linh Garrant, pun terungkap.

Tidak sampai disitu, Cinder juga harus menghadapi rencana pernikahan Pangeran Kai dan Ratu Levana yang jahat, yang dilakukan Pesemakmuran agar dapat diberikan penawar letumosis oleh Ratu Levana.


Honest Thought

Apa yang kalian pikirkan ketika melihat cover dan judulnya? Yup bener banget, Cinderella! Aku dari awal liat ini novel di toko selalu kepikirannya cerita Cinderella-nya Disney. Tapi jika kalian berharap nasib Cinder bakalan se-adem-ayem Cinderella, it’s a big NO for you guys.

Jika Cinderella digambarkan sebagai gadis baik hati, lemah lembut, yang diperlakukan semena-mena oleh ibu tiri serta saudara tirinya, setiap hari menangis kamar yang penuh debu, tapi kemudian dia tetap bahagia dengan bernyanyi dengan tikus dan burung-burung, maka di novel justru bertolak belakang. Cinder, gadis cyborg 16 tahun, digambarkan sebagai gadis yang kuat, mandiri, tegas dalam bertindak, jiwa pemberontak, dan satu-satunya hal yang membuat ia bertahan di rumah itu adalah adik tiri yang sangat ia sayangi. Ketika bertemu pangeran pun, Cinder tidak serta merta langsung jatuh cinta kepada Pangeran Kai, karena jauh di lubuk hatinya ia tahu bahwa yang diinginkan dia bukan cinta, melainkan kebebasan. Pokoknya Cinder itu strong banget, gak lenye-lenye kaya Cinderella, trus tiba-tiba ada magic and taraaaaa… segalanya terpenuhi, TIDAK!

Aku suka banget sama Cinder, dan emang jadi tokoh favorit aku di novel ini. Aku emang suka sama tokoh-tokoh yang kayak gini sih Hehehe.

Bagi kalian yang dari tadi bingung, istilah cyborg itu apa sih? Jadi di dunia novel ini penduduk Bumi dibagi menjadi tiga, yaitu manusia (which is normal), cyborg (setengah manusia, setengah robot), dan android (robot). Cinder merupakan cyborg dimana ia salah satu kaki dan tangannya adalah robot. Cinder juga memiliki otak yang sudah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga dia bisa terhubung langsung dengan internet, dan mendownload otomatis informasi yang diperlukan kemudian informasi akan di tayangkan di matanya. Selain itu Cinder tidak dapat menangis, karena matanya adalah mata robot, maka dia ga punya kelenjar air mata. Wah, berarti cyborg spesial banget dong *emang nasi goreng*. Nyatanya tidak. Masyarakat menganggap cyborg bukan manusia, bahkan terkadang mereka merasa jijik dan menganggap cyborg tidak memiliki perasaan karena mereka telah menjadi robot. Hal ini lah yang membuat Cinder awalnya menyembunyikan identitasnya sebagai cyborg dari Pangeran Kai.

Pangeran Kai juga berbeda dengan Pangeran (yang entah namanya siapa) yang ada di cerita Cinderella. Pangeran Kai, merupakan putra mahkota yang juga sangat diplomatis, memikirkan rakyatnya, selalu menaruh kepentingan dan keselamatan rakyatnya yang paling utama, serta selalu mencari cara agar dapat membuat aliansi yang damai antara Bumi dan Bulan. Pokoknya bukan tipe Pangeran ala dongeng yang ketemu Putri trus dinikahin, trus happily ever after (katanya). Bahkan Pangeran Kai harus rela menangkap orang yang dicintainya, jika itu dianggap dapat menyelamatkan rakyatnya *Eh spoiler* *maaf*

Dari segi cerita, Marissa Meyer sudah sangat baik membuat plot yang rapi dan mudah diikuti. Karena aku bacanya yang versi terjemahan, Penerjemahnya pun sudah sangat baik, di tambah dengan istilah-istilah yang diberitahu artinya di catatan kaki setiap halaman. Seperti yang kita tahu, tokoh utama dari novel ini tidak bisa menangis, namun penulis mengatur kata demi kata sedemikian rupa sehingga tanpa adegan air mata bercucuran pun kita bisa merasakan kesedihan yang dialami Cinder, terutama pas Peony….. Ah sudahlah! *crying on my pillow*

Emang terkadang kalian bisa nebak cerita lagi jalan ke arah mana, tapi akan banyak plot yang akan disisipkan pada setiap bab nya. Oiya ada scene, yang aku suka banget, yaitu pas Cinder menerobos ke tempat karantina untuk mengambil chip kepribadian Peony yang akan dibuang. Disitu dia bakalan berhadapan dengan tentara dan android kerajaan yang bersenjata. Pas baca di adegan itu, aku cuman bisa ngebayangin mungkin Cinder kalo di-Film-kan dia bakalan se-heroik Black Widow kali ya? Woooooooo #RESPECT

Setelah baca novel pertama, mungkin akan banyak menimbulkan banyak pertanyaan bagi kalian. Tapi tenang, kalau kalian melanjutkan ke novel-novel berikutnya, kalian akan mendapatkan sedikit demi sedikit jawaban dari pertanyaan kalian 🙂

Rating dari aku? 4,3/5

Oiya, btw ini aku tunjukin ya foto novel kedua dari series The Lunar Chronicles, judulnya Scarlet. Bocoran nih, kalo yang kedua ini di adaptasi dari cerita Red Riding Hood. Imajinatif banget ga sih si mbak Marissa Meyer ini? ❤

Ntar kalo ada kesempatan dan kemauan aku bakal lanjutin review novel kedua-nya 😀

2018-01-19 01.25.54 1.jpg

Iklan

Review Novel: Girls in The Dark by Akiyoshi Rikako

Hey, wassup epribadehhh?

Welcome back to this page. First, I just want to thank all of you, yang udah bersedia kembali lagi untuk membaca tulisan gue yang selalu ga jelas maunya apa. It means a lot for me. Really. Second, gue mau curcol dulu wkwkwkwk. Finally gue akhirnya bisa bebas dari kuliah lagi setelah ujian-ujian yang beruntun datang nya di satu minggu yang sama. Gue ga tau lagi segimana rasa senangnya gue ketika bisa dengan bebas berpelukan dengan bantal guling tercinta. I know you really miss me bro, cuz I miss you more 😀 And last, gue akhirnya bisa nulis review lagi setelah memilah-milah beberapa novel yang gue baca di bulan april sejauh ini. Tapi tetap aja, udah ada beberapa yang gue selesaikan, yah.. walupun beberapa novel tersebut harus bersaing ketat dengan bacaan-bacaan kuliah.

Dari ketiga alasan tersebut gue pun sudah memutuskan bahwa di waktu libur yang sangat berharga ini mungkin gue bakalan banyak nge-review beberapa novel yang sudah gue baca. Okay.. excited right? Yah.. at least pura-pura ajalah, biar gue ga malu-malu amat *walaupun emang malu-maluin* and here it is.. my own thought about “Girls in The Dark by Akiyoshi Rikako”

Judul: Girls in The Dark

Penulis : Akiyoshi Rikako

Penerjemah Andry Setiawan

Penerbit : Haru

Jumlah halaman: 279

2017-04-23_03.27.28_1[1].jpg

“Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu…?

Gadis itu mati.

Ketua Klub Sastra Shiraishi Itsumi, mati. Di tangannya ada setangkai bunga lily.

Pembunuhan? Bunuh diri? Tidak ada yang tahu. Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisis mereka, tapi….

Kau… pernah berpikir ingin membunuh seseorang?”

Cerita Girls in The Dark ini berlatar tempat di sebuah SMA Katolik  yang sangat elit di Jepang, yaitu SMA Putri Santa Maria. Sekolah ini memiliki Klub Sastra yang diketuai oleh Shiraishi Itsumi yang terkenal dengan kecantikannya dan Sumikawa Sayuri, yang merupakan sahabat Shiraishi Itsumi, sebagai wakil ketua. Klub Sastra memiliki sebuah Salon, yang dapat dikatakan sangat mewah dan lengkap. Kalo di Indonesia, Salon lebih dikenal dengan ‘sekretariat’ organisasi. Anggota Klub Sastra juga hanya orang-orang tertentu yang hanya dipilih langsung oleh Ketua Klub-nya yaitu Itsumi. Sampai saat ini pun, Klub Sastra hanya beranggotakan 5 orang, yaitu Nitai Mirei, yang merupakan siswa penerima beasiswa tidak mampu, Kominami Akane yang hobi memasak makanan barat, Diana Detcheva, siswa internasional dari Bulgaria. Lalu ada juga Koga Sonoko yang merupakan saingan Itsumi di kelas dan Takaoka Shiyo, sang penulis novel terkenal.

Suatu hari, ditemukan mayat ketua Klub Sastra di halaman sekolah dengan bersimbah darah sambil memegang bunga lily. Namun sampai saat ini, belum diketahui dengan pasti apakah kematian Itsumi disebabkan oleh bunuh diri atau pembunuhan. Bunga lily, dianggap sebagai pesan kematian dari Itsumi kepada kelima anggota Klub Sastra tentang siapa pembunuhnya, yang mengantarkan mereka mulai saling mencurigai satu sama lain.

Dengan kematian Itsumi, secara otomatis jabatan ketua diserahkan kepada wakil ketua Klub Sastra, Sumikawa Sayuri. Satu minggu setelah kejadian tersebut, Klub Sastra pun berkumpul di Salon untuk mengadakan acara rutin mereka yang dilakukan setiap akhir semester sebelum masa liburan. Acara ini disebut Yami-Nabe, dimana akan disediakan sebuah panci berisi air, dan akan diisi oleh bahan makanan yang dibawa oleh peserta. Bahan makanan boleh apa saja, bisa makanan dan bukan makanan, yang penting steril. Peserta tidak diperbolehkan untuk mengetahui atau saling memberitahu bahan makanan apa yang mereka bawa. Setelah dimasak, makanan tersebut akan dimakan bersama-sama dalam keadaan gelap, sambil mendengar cerpen dari masing-masing anggota, yang dibaca di tempat yang telah disediakan. Biasanya tema cerpen yang dibacakan bebas, namun dalam acara kali ini, tema cerpen yang ditulis adalah tentang Kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraisi Itsumi. Tidak disangka, cerpen yang dituliskan oleh masing-masing anggota pun mengerucut ke analisis masing-masing dari mereka tentang siapa pembunuh Shiraisi Itsumi.

Siapakah pembunuh dari Shiraishi Itsumi? Apa alasannya?

My Thoughts:

Novel ini, udah sering banget gue liat di toko buku. Jujur, gue awalnya tertarik sama novel ini karena cover-nya yang bagus. Pikirnya mungkin di dalam bakal ada beberapa gambar, karena dari luar keliatannya kayak manga gitu. Tapi ternyata, nope. But, still.. gue tetep suka sama covernya. Dan akhirnya kesampean beli juga, karena setelah dilihat rating di Goodreads ternyata tinggi juga. Banyak booktuber yang merekomendasikan juga, so.. give it a try wouldn’t hurt anyone, would it?

Pas dibaca, mungkin agak kaget atau bingung sama gaya tulisan dan point of view. Gue awalnya bingung, karena setting keadaannya pas sedang berlangsungnya acara Yami Nabe. Alur cerita nya maju mundur, mungkin memang membingungkan tapi setelah beberapa halaman, pasti kan terbiasa dan mengerti. Kalo mau dibilang, novel ini lebih seperti kumpulan cerpen, yang masing-masingnya di tulis oleh anggota Klub Sastra itu sendiri. Setiap bab merupakan satu cerpen yang ditulis dan dibacakan oleh penulisnya. Setiap akhir cerpen akan dipaparkan kesimpulan penulis cerpen tentang siapa yang menurutnya tersangka dalam pembunuhan Itsumi. Kemudian akan ditutup oleh komentar dari ketua Klub Sastra, Sumikawa Sayuri, selaku pemandu acara tersebut.

Gue ga tau kenapa, tapi aura dari novel ini cukup berbeda. Dari halaman-halaman awal gue udah bisa nyium bau-bau misterinya. mungkin karena novel Jepang pertama yang gue baca jadi, yaaa cukup mengesankan. Awal baca, gue mikirnya apa mungkin ini novel bakal mirip sama “Solomon no Gisho”-nya Miyuki Miyabe. Tapi ternyata beda banget. Btw, Solomon no Gisho bagus juga walaupun gue taunya yang versi drama dan filmnya hahaha *abaikan*

Penggemar novel misteri mungkin akan langsung tahu pelakunya dari awal. tapi entah mengapa, menurut gue Akiyoshi Rikako emang udah niat dari awalnya bikin pembunuhnya keliatan dari awal, biar kita bisa liat juga kepura-puraanya dia selama acara Yami Nabe. Gue lumayan menikmati alur ceritanya. Fakta-fakta yang diberikan oleh setiap cerpen sangat mengejutkan. Terkadang emang ada bagian cerpennya yang bertele-tele dan akhirnya gue skip, dan langsung ke bagian pengungkapan tersangka nya. Tapi, yakinlah dan percayalah.. walupun kalian sudah bisa nebak alurnya bakal kemana, plot twist nya akan sangat bagus. terutama bagian akhir yang mana dipaparkan kembali fakta dari fakta *apasih?* yang sebelumnya sudah dipaparkan.

Beberapa orang mungkin akan berkomentar tentang terjemahan, btw banyak yang bilang kurang nyaman terjemahannya, jadi bikin mengganggu. Tapi buat gue sih fine-fine aja kok. Mungkin karena yang gue beli udah edisi kesekian kali ya, makanya udah diperbaiki kesalahan-kesalahan terdahulu.

Terakhir, sebernarnya gue agak kecewa sama produksinya, karena potongan kertasnya gak lurus dan itu bikin gue gak nyaman banget pas baca 😦

Untuk penggemar novel misteri, mungkin kalian bisa baca novel ini sebagai selingan ringan karena gue sendiri lumayan terhibur dengan plot twist-nya

Rate dari gue? 3,7 of 5

Minus karena gue udah bisa nebak bakalan kemana ceritanya *which is bikin minatnya agak ilang-ilangan saat baca*, produksi yang bikin gue agak sebel, dan ingatlah nilai sempurna hanya milik Tuhan, jadi gue gak bisa kasi nilai 5 😀

“Gerbang Dialog: Danur” by Risa Saraswati

Yaaaa.. ini postingan pertama yang meresmikan apa yang akan aku lakukan dengan laman ini~

Judul: Gerbang Dialog Danur

Penulis: Risa Sarawati

Penerbit: Bukune

Jumlah Halaman: 222

Genre: Horor

First of all aku suka sama novel ini. Genrenya horror sih, tapi ga horor banget karena lebih menceritakan sisi lain dari hal tersebut!

Risa Saraswati adalah seorang penyanyi, yaitu Vokalis dari band yang bernama “Sarasvati”. Namun, disamping menjadi penyanyi dan PNS, Teh Risa juga menulis buku tentang temen-temen hantunya yang memang bisa dilihat oleh matanya dari dianya masih anak-anak.

Btw, novel ini sudah difilmkan, tapi cerita sangat berbeda dari versi novelnya, sehingga sebagai pembac pun, rasa kecewa  tidak dapat aku elak.

 

 

 

Namaku Risa. Aku bisa melihat ‘mereka’…..

 

Gerbang Dialog: Danur 
Risa, yang saat itu baru berumur 8 tahun harus hidup terpisah dengan orang tua dan adik kecilnya. Ia harus tinggal bersama dengan neneknya di Kota Bandung. Kehidupannya di sekolah baru yang sangat berbeda dengan sekolahnya yang sebelumnya di Desa, membuat Risa menjadi anak yang penyendiri dan tidak mempunyai teman. Sampai suatu ketika, saat Risa kecil menangis sendiri loteng garasi di rumah neneknya, ia mendengar samar-samar ada yang memanggil namanya. Ketika berbalik ia mendapati seorang anak laki-laki keturunan Belanda yang sedang berdiri. Anak tersebut bernama Peter, dan menurut pengakuannya, ia adalah anak yang tinggal di sekitar lingkungan perumahan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Risa mulai berkenalan dengan teman-teman Peter yang lain yaitu William, Hans, Hendrick, dan Janshen. Hidup Risa yang dulunya sendiri dan sedih, kini penuh dengan canda tawa kelima temannya yang selalu menemaninya setiap hari.

Waktu berjalan hingga 1 tahun kemudian, Risa mulai menyadari bahwa sahabat-sahabatnya yang selama ini bersama dia bukanlah manusia. Hanya Risa yang dapat melihat mereka. Namun rasa sayang Risa terhadap sahabat-sahabatnya membuat Risa tetap bersama mereka. Dan kemuadian terucap janji dari mulut Risa yang pada akhirnya tidak bisa dia tepati.

Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen yang pada dasarnya sangat tidak mentolerir hal-hal seperti “ingkar janji” menjadi sangat marah dan menghilang dari kehidupan Risa. Kehidupan Risa yang tadinya sangat berwarna pun kembali suram karena kehilangan sahabat-sahabatnya.

Janji apa yang telah Risa ingkari?

Apakah Risa bisa bertemu kembali dengan kelima sahabat hantunya?

Pendapat saya: 

Ini novel, highly recommend banget buat kalian yang suka novel ber-genre Horror. Ceritanya fresh, dan ga horor melulu sebenarnya. Ada beberapa cerita yang ditulis seperti surat dari teman hantu Risa yang lain yang ditemuinya. Bagi kalian yang sudah menonton filmnya, mungkin bertanya-tanya bagaimana wujud hantu yang bernama Asih menurut deskripsi Risa, maka kalian perlu untuk membaca novel ini. Kalian juga bakalan tau cerita gimana hidupnya sampai bisa menjadi hantu.

Di novel ini pun Risa berulang kali bilang bahwa dia sangat bersyukur dengan kemampuannya karena melalui hal itu ia menjadi orang yang lebih menghargai hidupnya.

Aku juga suka gaya penulisannya yang dibikin seperti surat dan disisipkan beberapa salinan dari Buku Diary Risa sendiri.

Ada yang kurang? 

Ya. Mungkin karena ini based on true story, aku jadi mikir ini harusnya lebih realistis. Tapi, berhubung ini juga tentang hantu, yang mana masih banyak orang yang ga percaya adanya mereka, aku ga bisa realistis juga. Seperti yang udah aku bilang, ada beberapa cerita dari temen hantunya Risa yang lain. Tapi, pada beberapa cerita terasa agak di “dramatisir” sehingga aku males bacanya. Ada juga beberapa cerita seperti ketika kakak Janshen yang menulis surat kepada Janshen tentang nasibnya sebelum meninggal ketika berada di penjara. Bikin agak bingung dan bertanya-tanya kapan Risa bertemu dengannya, serta kenapa Janshen masih terus mencari kakaknya padahal, ia sudah dikirimi surat sama kakaknya melalui Risa? Hmmmm..

Overall. Aku suka sama novelnya, bahkan aku juga beli lanjutannya yaitu “Sebuah Ruang Cerita: Maddah”

Rating dari aku? Aku kasih 3,75 of stars! 🙂

Review Buku: Perahu Kertas – Dee Lestari

Hello people~

Udah lama ga nulis review di blog nih. Sekalinya nulis lagi, eh pengennya review novel jadul.

Jadi novel ini sudah ada sejak tahun 2009, dan bahkan sudah di film kan oleh sutradara terkenal Hanung Bramantyo. Aktris dan Aktor yang memerankan pemeran utamanya pun tak kalah terkenal (walaupun sebenarnya menurut aku mereka mulai terkenal karena film “Perahu Kertas”) dan film luar biasa bagus! Aku ingat dulu masih SMA kelas 11, dan aku diajak nonton film ini sama kakak sepupuku. Tapi aku menolak karena emang kurang tertarik nonton film indo dulu :’D (dulu sama sekarang beda, sekarang udah banyak film indo yang berkualitas dengan cerita yang tidak membosankan)

Baru pada tahun 2014, aku coba nonton dan aku suka. Tahun ini, setelah aku baca bukunya, aku nonton film ini lagi di salah satu aplikasi streaming (gara-gara nonton video Happy Birthday-nya Vanessa di channel youtube-nya Adipati. Keenannnn~ romantis parah) dan hasilnya aku makin suka.

Okay, okay.. curhatnya kepanjangan nih. Bagi yang belum pernah baca novelnya, yuk bisa dibaca dulu reviewnya~

  • Judul: Perahu Kertas
  • Penulis: Dee Lestari
  • Penyunting: Hermawan Aksan
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Tahun terbit: 2015 [cet.4, 2016]
  • ISBBN: 978-602-291-095-4
  • Jumlah halaman: 556 hal.

BLURB:

Namanya Kugy. Mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu…

Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu…

Dan, kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan.

Akankah dongeng dan lukisan bersatu?

Akankah hati dan impian mereka bertemu?


Tidak ada kata terlambat untuk baca novel ini. Sekalipun kamu sudah nonton filmnya. Novel dengan kisah “sahabat jadi cinta” memang banyak, tapi kamu layak memasukkan “Perahu Kertas” ke list buku favorit. At least, itu yang aku lakukan.

“Jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”

“Gerimis, melukis, menulis… satu saat nanti kita jadi diri kita sendiri”

Narasi dibuka dengan cerita sebelum kedua tokoh utama bertemu, Kugy yang masih di Jakarta dan Keenan yang masih di Amsterdam. Kugy dengan senang hati meninggalkan Jakarta untuk memulai petualangan barunya, sedangkan Keenan dengan berat hati harus meninggalkan Amsterdam, tempat dia bisa bebas bermimpi menjadi seorang pelukis. Kemudian latar akan berpindah ke Bandung, dimana menjadi tempat bertemunya Kugy dan Keenan.

Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi sahabat yang sering jalan bareng, bersama 2 teman lain, Noni, teman masa kecil Kugy, dan Eko, sepupu Keenan merangkap teman SMP Kugy. Kugy dan Keenan menjadi lebih dekat, karena impian mereka yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan orang.

Seperti yang sering kita dengar, timing is everything. Itulah kalimat yang pas untuk hubungan Kugy dan Keenan. Keenan sadar akan perasaannya saat tau hati Kugy sudah ada yang punya. Ia pun mulai “agak” menjaga jarak dengan Kugy. Kugy pun begitu, saat ia sadar akan pilihan hatinya dan berniat jujur pada Keenan, Keenan sudah terjebak dalam hubungan dengan gadis lain.

Tahun kedua mereka kuliah, hubungan mereka makin tak terkendali, dan empat sahabat itu pun mulai terpecah. Kugy yang selalu menyimpan masalah hatinya pun mulai menyendiri dan menjauhkan diri dari tiga sahabatnya. Dan hal itu berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian.

Setelah 3 tahun, mereka bertemu kembali di acara pertunangan Noni dan Eko. Kugy yang sudah menjadi seorang karyawan, dan Keenan yang sudah menjadi pelukis. Pertemuan itu membuat mereka berdua benostalgia dengan perasaan mereka yang dulu. Mereka sadar bahwa mereka masih menyimpan perasaan masing-masing. Pemilik hati mereka masih sama seperti dulu. Tetapi, kali ini menjadi lebih sulit dikarenakan mereka sama-sama sudah memiliki kekasih…


Jujur, aku adalah tipe yang jarang banget baca buku romance, kecuali penulisnya udah aku coba salah satu bukunya. Genre romance ada di urutan kesekian dalam list favorit-ku. Tapi yang satu ini, beda. Setelah membaca “Perahu Kertas”, aku berani bilang ini masuk ke daftar favorite-ku dan resmi jadi juara satu dari list buku romance-ku.

Alur yang digunakan di dalam novel ini adalah alur maju. Dilengkapi dengan keterangan tempat, bulan, dan tahun di setiap bagian cerita, kita bisa lebih membayangkannya.

Novel ini juga diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, dipisahkan sesuai bagiannya. Ada bagian yang menceritakan tentang Kugy, Keenan, Noni, Eko, Remi, Luhde dan lain-lain yang memang mengambil bagian penting di cerita Kugy-Keenan ini.

Dan yang paling aku suka tentang buku ini adalah pembagian narasi dan dialognya. PAS! Narasi beberapa ada yang panjang, tapi tetap tidak membosankan karena tidak bertele-tele. Inilah yang paling aku suka dari Mbak Dee Lestari. Selalu pas dalam mengkombinasikan 2 aspek ini.

Beberapa hal sebenarnya agak dilebih-lebihkan. Setidak itu menurutku hahaha. Tapi di dunia ini apasih yang ga mungkin? Semua bisa aja terjadi, aku aja yang kurang pengalaman *lol*

Ini sedikit spoiler, tapi menurutku ketika Keenan menggantikan ayahnya di sebagai CEO di kantor adalah sesuatu yang sepertinya ga mungkin terjadi di dunia nyata hehehe. Hey, Keenan bahkan bukan lulusan Sarjana, dia cuma seorang lulusan SMA yang udah 3 tahun jadi pelukis, trus tiba-tiba dia menggantikan ayahnya sebagai pusat keputusan di perusahaan. Yakin, ga ada bawahan yang mempertanyakan kredibilitasnya? Sekalipun itu perusahaan punya papanya, pasti ada dewan komite yang lebih berhak memutuskan.

Itu adalah salah satu dari beberapa hal yang menurutku berlebihan di buku ini. Namun jika kita kembali ke cerita inti dari ini buku, ceritanya sangat-sangat menarik.

Tokoh yang paling aku suka disini ada 2, yaitu Kugy dan Eko. Melalui tokoh Kugy ini kita belajar bahwa sekalipun kelihatannya mimpi yang kita miliki tak bisa kita gapai, tetaplah percaya. Suatu saat, ketika kesempatan itu ada, jangan ragu untuk diambil. Selain itu aku juga belajar, ketika kita merasa galau dan frustasi, cara terbaik agar pulih dan tak memikirkan hal-hal itu adalah dengan memperbanyak kegiatan positif. Kugy menjadi pengajar di Sakola Alit, dan menurut aku itu adalah hiburan terbesarnya ketika ia merasa sedih akan hubungannya dengan Keenan. Sedangkan tokoh Eko aku pilih sebagai tokoh yang aku sukai adalah karena ia bisa mengambil posisi netral ketika pacarnya dan sahabatnya sedang marahan. Tidak banyak orang di dunia ini yang seperti Eko. Apalagi posisinya pacarnya tau kalo Eko pernah menyukai sahabatnya itu.

Terakhir mungkin aku mau kutipan lain yang aku suka.

“Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi mau memberikan segala-segalanya”

“Tapi orang itu adalah kamu. Aku nggak pernah minta apa-apa tapi, kamu kasih semuanya”

“Kamu mungkin sudah ketemu. Saya yang belum”


PERBANDINGAN DENGAN VERSI FILM

Sebenarnya banyak yang sedikit bergeser dari bukunya, tapi itu hanya hal-hal kecil. Tentang pertemuan Kugy dan Keenan (yang sebenarnya lebih masuk akal yang di film, tapi lebih keren versi novel), tentang Noni dan Kugy, tentang Eko yang pernah suka sama Kugy, tentang geng midnight mereka, tentang Kugy dan Sakola Alit, tentang Kugy dan Remi, tentang sosok Siska yang sepertinya mengambil bagian penting di film tapi di buku hanya disebut sekali atau dua kali. Banyak sih, tapi dapat dimengerti. Tapi akan lebih bagus jika benar-benar seperti bukunya.

Satu hal yang benar-benar aku sadari adalah di film aku merasa Kugy dan Keenan terlalu cepat untuk jatuh cinta dan mustahil bisa saling memikirkan selama itu. Padahal kan ga ada apa-apa diantara mereka. Dan hubungan mereka kayaknya cuma gitu-gitu doang, pacaran aja gak! Tapi berbeda dengan semua itu, di buku justru bisa kita ikuti ceritanya dengan baik sehingga bisa tau bagaimana dan proses apa yang telah mereka lalui yang bisa bikin mereka sedekat itu.

Jadi akan lebih bagus kalo kalian baca dulu bukunya, baru kemudian di nonton filmnya.

Itu sih menurutku 🙂

Oke sekian review dari aku~

Untuk buku ini aku kasih 4/5🌟

*bonus foto Kugy dan Keenan versi Film*